, , , , ,

Merayakan Keberagaman di Bogor

Merayakan Keberagaman di Bogor: dari Barongsai hingga Kentongan

Oleh: Amar Alfikar

Dua remaja Ahmadiyah berjalan teduh ke arah sebuah panggung yang didirikan di pelataran sebuah Pendopo yang gagah berdiri, seolah dengan segenap kebijaksanaannya siap menjaga dan mengayomi mereka yang berbeda. Salah satu dari dua pemuda Ahmadi itu menggenggam secarik kertas, sebuah lirik kasidah yang kemudian mereka disenandungkan dengan demikian indah dan khidmat.

Tanpa latar musik, dua Ahmadi ini melagukan syair berjudul Ya Aina faidhillahi wal irfani (wahai sumber mata air kemuliaan dan makrifat Allah), sebuah kasidah yang telah demikian lama mengakar dalam tradisi keagamaan mereka, kasidah ini betapa mengingatkan kita dengan syair-syair serupa yang masih terus dilanggengkan dengan setia oleh masyarakat Islam tradisionalis hingga saat ini, syair yang dilantunkan pemuda Ahmadi dengan gubahan nada yang mendayu-dayu ini serupa dengan kitab-kitab biografi kanjeng Nabi yang lain seperti burdah, al-barzanji dan ad-diba’i.

Adalah perayaan hari toleransi internasional di Bogor pada tanggal 17 November 2018 lalu, yang menyediakan panggung terbuka untuk beragam identitas dalam mengekspresikan diri mereka melalui bungkus kesenian dan kebudayaan yang demikian indah. Dihelat di Pendopo Keadilan milik Yayasan Satu Keadilan, bekerja sama dengan berbagai komunitas dan organisasi hingga Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang bergerak di isu kemanusiaan, sosial dan keadilan, seperti Gusdurian, Basolia, Setara Institute, dan berbagai elemen lainnya, panggung toleransi digelar untuk menutup rangkaian peringatan hari toleransi internasional.

Sebelumnya, diskusi dengan tajuk Pemuda, Media dan Toleransi cukup menyita banyak perhatian mengingat perwakilan dari lintas komunitas dan lintas iman terlibat aktif dalam forum yang menghadirkan dua pembicara, yakni gus Roy Murtadho dan Firman dari Remotivi.

Panggung toleransi yang dikemas dengan cukup sederhana rupanya berhasil menjadi pertunjukan kebudayaan yang cukup berkesan bagi banyak orang. Bagaimana tidak, para hadirin dan tamu undangan disuguhi penampilan kesenian yang demikian berwarna, penampilan Barongsai yang mewakili etnis Tionghoa disuguhkan bersamaan dengan pertunjukan akrobatik dari dua pendekar sunda melalui gerakan-gerakan seni bela diri yang ritmis dan kompak.

Nuansa kemeriahan penampilan barongsai dan seni bela diri tersebut kemudian berubah menjadi demikian spiritual ketika dua pemuda dari Ahmadiyah melantunkan satu qasidah karangan Mirza Ghulam Ahmad. Suara mereka demikian meneduhkan dan lembut, menyentuh batin paling dasar kemanusiaan siapa saja yang mendengarnya, tentu saja kalau mereka memandangnya dengan kaca mata cinta dan kesetaraan, bukan kebencian dan penghakiman.

Acara ditutup dengan suara kentongan yang dipukul bertalu-talu oleh semua yang hadir dalam helatan tersebut. Di kaki langit malam itu, bunyi kentongan menandakan pesan kemanusiaan yang paling utuh, ia semacam pepeling bagi Indonesia agar terus menerus bersetia menyebarkan nilai-nilai toleransi dan kemanusiaan di bumi nusantara, juga seluruh alam semesta. Seperti kenthongan yang merupakan produk kebudayaan masyarakat nusantara yang senantiasa menjadi penanda agar manusia tetap terjaga dan iling atau ingat, maka seperti itu pula keindonesiaan kita harus tetap terjaga, nilai-nilai kemanusiaan harus terus kita pupuk bersama-sama.

Facebook Comments
GUSDURian Bogor - Merawat dan Melestarikan Pemikiran Gus Dur
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •   
  •   
  •   
  •   
  •   
  •  
  •  
  •  
    25
    Shares
  • 25
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •