, , ,

Desember Bulan Gusdur

Desember Bulan Gus Dur

Desember mengukir sejarah pilu negeri ini. 30 Desember 9 tahun yang lalu, Indonesia kehilangan sosok Guru Bangsa tercintanya. Yakni Abdurrahman Wahid, sosok santri, kyai, intelektual bahkan banyak orang mempercayainya sebagai Wali utusan Allah (Waliyullah), dan beliau pernah menjabat sebagai Presiden RI ke-4 masa periode 1999 hingga 2001.

Gus dur, begitu sapa akrab semua orang kepadanya. Walau beliau seorang Kyai bahkan Presiden sekalipun, tak pernah meminta kepada orang-orang untuk memanggilnya sebagai Kyai atau Presiden. Tetap ‘Gus Dur’. ‘Adhap Asor’, itulah yang selalu Gus Dur tanamkan dalam diri beliau, juga santri-santrinya.

Pria kelahiran Jombang, Jawa Timur ini selalu menebarkan kedamaian di tiap kata yang disampaikannya. Dengan nyaman dan damai beliau berbicara, walau terkadang banyak kandungan arti yang sulit dipahami. Banyak orang yang membenci Gus Dur lantaran pernyataannya yang kontroversial. Berjuta hina, caci, maki bahkan fitnah kerap menerpa Gus Dur, bahkan hingga sekarang. Namun beliau tetap sabar dan tabah, sambil sesekali berucap, “Besok-besok pasti terbukti oleh bangsa ini sendiri”. Dan benarlah ucapan itu terjadi, banyak yang ‘kualat’ kepadanya.

Beliau adalah ‘Bapak Tionghoa’ yang selalu dihormati dan dicintai oleh seluruh umatnya di Indonesia, bahkan hingga dunia. Walau agamanya Islam dan seorang Kyai, tidak lantas membuat Gus Dur menyingkirkan begitu saja agama-agama lain yang tidak sama dengan yang diyakininya. Gus Dur merupakan sosok Kyai ramah tamah yang menjunjung tinggi agama, kemanusiaan, keadilan dan kesetaraan. Ia menerapkan toleransi dimana saja berada. Termasuk di Indonesia, Gus dur meresmikan Tionghoa sebagai etnis resmi Indonesia serta memberikan hak dan kebebasan etnis tersebut sebagaimana pribumi (warga Indonesia asli), termasuk dalam bidang politik.

Banyak hal yang dapat dijadikan pelajaran dari sosok Gus dur. Baik dari apa yang pernah beliau sampaikan, perbuatan, pernyataan dan akhlak beliau. Beruntunglah, Indonesia pernah dipimpin oleh seorang Waliyullah yang ‘Adhap asor’, Gus Dur namanya. Yang sampai saat ini makamnya selalu dipenuhi peziarah-peziarah yang merindu dan mencintainya, bahkan yang seumur hidupnya belum pernah bertemu secara langsung dengannya. Juga dengan miliaran fatihah dan doa yang tiap detik selalu bergema, berkumandang, dikirimkan oleh umat kepada sang Guru Bangsa tercinta. Semua itu karena rasa cinta para santri kepada kyainya.

Gus, ingin aku memelukmu sembari berteriak lantang, “Aku rindu” walau kita belum pernah sekalipun bertemu. Hanya sebatas mimpi, yang terselip di malam hari. Semoga di akhirat, kami bisa ‘Nggendol sarung’ mu Gus. Kami yakin kau hanya pulang, bukan pergi. Kau masih ada di hati kami, para santrimu yang selalu merindu sejak pagi hingga pagi lagi.

Gus Dur tetap abadi.

#haulgusdur9 #bulangusdur

Selamat menyambut Haul ke-9 Gusdur.
(Vinanda Febriani) Senin, 03 Desember 2018.

Facebook Comments
GUSDURian Bogor - Merawat dan Melestarikan Pemikiran Gus Dur
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •   
  •   
  •   
  •   
  •   
  •  
  •  
  •  
    3
    Shares
  • 3
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •