,

Ahmadiyah Hidup “Bergerilya” di Kota Rempah

Hidup dengan bertorelansi.

Gunung Gamalama yang tertutup halimun itu menjadi saksi. Gunung itu menjadi pasak “bekas” ibu kota provinsi  yang terbentuk sebagai konsekuensi konflik 1999. Belajar dari sejarah berdarah, masyarakat Kota Ternate mengikat komitmen untuk saling toleransi dan menghindari perdebatan, apalagi permusuhan. Sayang, Ahmadiyah dibumi Kie Raha ini masih belum bisa diterima dengan sempurna.

Salah satu anggota Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI) menerangkan pengalaman hidupnya selama tiga tahun di Kota Rempah ini. Di kediamannya, ia menceritakan kuatnya toleransi di kota berpenduduk 218 ribu jiwa ini. “Pasca konflik, orang-orang berkomitmen untuk saling mengasihi.” Tuturnya saat duduk di ruang tamu. Tentunya hal ini selaras dengan nilai “persaudaraan” pada GUSDURian di mana persaudaraan bersumber dari prinsip-prinsip penghargaan atas kemanusiaan, keadilan, kesetaraan, dan semangat menggerakkan kebaikan.

Masyarakat masih belum bisa menerima Ahmadiyah, walaupun dari sisi kebangsaan. Mereka dianggap dan dicap sebagai “aliran sesat” yang harus dihilangkan. “Dulu pernah ada konflik antar Ahmadiyah dengan kelompok Ahlussunnah.” Terang Yusran, salah satu jemaah Masjid Al Munawar, Kota Ternate yang sedang menunggu waktu Zuhur. “Sempat terjadi kontak fisik,” tambahnya.

Masih banyak yang belum tahu soal Ahmadiyah. Hal ini sedikit banyak membuat anggota JAI hidup dalam banyang-bayang. Mereka “membohongi” diri mereka untuk “bahagia” dan hidup seperti masyarakat mayoritas. Perlu digarisbawahi, hanya terdapat empat keluarga anggota JAI di Kota Ternate.  Hanya satu keluarga yang terbuka dengan masyarakat. Tiga keluarga lainnya enggan untuk membuka diri sebagai Ahmadiyah kepada orang di lingkungan sekitar dan lingkungan kerja.

“Belum ada kepercayaan kepada masyarakat,” ucap salah satu anggota JAI, “hanya saya dan keluarga dengan masyarakat sekitar. Alhamdulillah mereka bisa menerima.”

Hal ini juga berlaku untuk anggota JAI di wilayah Maluku Utara lainnya. Apakah mereka hidup di Pulau Halmahera, Pulau Tidore, dll. semua masih sebatas keluarga atau perorangan yang melakukan migrasi dan bekerja di Maluku Utara. Sedikitnya anggota membuat Ahmadiyah belum bisa membuat kesekretariatan, guest house, masjid, dsb. Silaturahmi yang dibangun antar anggota JAI di Maluku Utara juga jarang dilakukan karena keterbatasan anggota dan jarak yang jauh. Mobilisasi antar pulau di Maluku Utara bisa dilakukan menggunakan feri atau speed boat, atau pesawat. Belum ada jembatan seperti Suramadu yang menghubungkan pulau ke pulau.

Persekusi yang dihadapi oleh Ahmadiyah di Maluku Utara hampir tidak ada pasca konflik tahun 1999 di mana warga, pemerintah, dan ormas-ormas berbasis multikultur bergerak cepat untuk mencegah dan meredam potensi konflik. Tetapi, rakyat Indonesia perlu (kembali) membuka sejarah. WR Supratman, pencipta lagu Indonesia Raya adalah Ahmadiyah. Lalu perlukah kita masih mempersekusi?

Penulis: Jalu Yodha

Facebook Comments
GUSDURian Bogor - Merawat dan Melestarikan Pemikiran Gus Dur
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •   
  •   
  •   
  •   
  •   
  •  
  •  
  •  
    29
    Shares
  • 29
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •